______---Assalamualaikum sahabat ku........Selamat datang di " Kantie Baselo " .........Jika kau memerlukan nikmat dunia, cukuplah Islam sebagai nikmatmu. Jika kau memerlukan keasyikan, cukuplah taat pada Allah sebagai keasyikanmu. Dan jika kau memerlukan pengajaran, cukuplah maut itu sebagai pengajaran bagimu (Ali ibn Abi Thalib), semoga bermanfaat---_______

Thursday, November 11, 2010

Renungan Ibu

Posted by Dovi Eka Wiranata |


Suatu

ketika… Seorang bayi siap untuk dilahirkan ke dunia. Menjelang
diturunkan, dia bertanya kepada Tuhan,
"Pada malaikat di sini mengatakan bahwa besok Engkau akan mengirimku ke
dunia. Tetapi bagaimana cara saya hidup di sana? saya begitu kecil
dan lemah." kata si bayi.
Tuhan menjawab,
"Aku
telah memilih satu melaikat untukmu, ia akan menjaga dan
mengasihimu.”
"Tapi di surga, apa
yang saya lakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa,
ini cukup bagi saya untuk
bahagia." kata si bayi.
Tuhanpun menjawab,
"Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari dan akan merasakan
kehangatan cintanya dan jadi lebih bahagia."
Si bayipun betanya
kembali,
"Dan apa yang saya lakukan saat saya ingin berbicara dengan - Mu?"
Sekali lagi Tuan
menjawab,
"Malaikatmu akan
mengajarkan bagaimana kamu berdoa."
Si bayipun masih belum puas, ia bertanya lagi,
"Saya mendengar di bumi banyak orang jahat, siapa yang akan melindungi
saya?"
Dengan penuh kesabaran Tuhan pun menjawab,
"Malaikatmu akan melindungimu dengan taruhan jiwanya sekalipun."
Si bayipun tetap belum puas dan melanjutkan pertanyaannya,
"Tapi saya akan
bersedih karena tidak melihat Engkau lagi."
Dan Tuhanpun menjawab,
"Malaikatmu akan menceritakanmu tentang Aku, dan akan mengajarkan bagaimana agar
kamu bisa kembali kepada-Ku. Walaupun sesungguhnya Aku selalu berada
disimu."
Saat itu surga begitu tanangnya, sehingga suara dari bumi dapat terdengar
dan sang anak dengan suara lirih bertanya, "Tuhan…jika saya
harus pergi sekarang, bisakah Engkau memberitahu siapa nama malaikat
dirumahku nanti?"
Tuhanpun menjawab…
"Kamu dapat
memanggil malaikatmu… IBU…"
Kenanglah
Ibu yang menyayangimu. Untuk Ibu yang selalu meneteskan air mata
ketika kau pergi… Ingatlah engkau ketika, ibumu rela tidur tanpa
selimut demi milihatmu tidur nyeyak dengan dua selimut membalut
tubuhmu.
Ingatlah ketika jemari
ibu mengusap lembut kepalamu ?
….dan ingatlah engkau ketika air mata menetes dari mata ibumu ketika ia
melihatmu terbaring sakit?
Sesekali jenguklah ibumu
yang selalu menantikan kepulanganmu di rumah
tempat kau dilahirkan.
Kembalilah memohon maaf
pada ibumu yang selalu rindu akan senyumanmu.
Jangan biarkan engkau kehilangan saat-saat yang akan kau rindukan di masa
datang. Ketika ibu telah tiada…
Tak ada lagi yang berdiri
di depan pintu menyambut kita,
Tak ada lagi senyman
indah… tanda bahagia.
Yang ada hanyalah kamar
yang kosong tiada penghuninya.
Yang ada hanya baju  yang digantung di lemari kamarnya.
Tak ada lagi dan tak akan ada lagi yang meneteskan air mata yang
mendo’akanmu disetiap hembusan nafasnya.
Kembalilah segera…
peluklah ibu yang selalu menyayangimu…
Ciumlah kaku ibu yang
selalu merindukanmu dan berikanlah yang terbaik diakhir hayatnya
Kenanglah semua cinta dan
kasih sayangnya…

Cerita Mistis Hotel Ambacang Padang

Posted by Dovi Eka Wiranata |


PADANG - Siapa yang tak kenal Hotel Ambacang? ‘Hotel pencabut nyawa’ yang menelan banyak korban pada saat gempa 30 September 2009.


Di balik reruntuhan bangunan ini ternyata menyisakan cerita yang mengerikan hingga sekarang. Meski puing bangunan reruntuhan itu sudah dibersihkan dan bahkan sudah mulai pembangunan baru, tapi bagi warga Padang kawasan ini masih mengerikan. Terutama di atas pukul 20.00 WIB.

Banyak warga terutama para sopir dan ojek yang tertipu, bahkan ada yang mendengar suara jeritan serta mobil yang bergoyang tanpa sebab. Yang lebih mengerikan, ada pihak yang melihat mayat sedang berjalan kaki dengan kondisi tubuh yang tidak utuh. Warga setempat berpendapat jika itu roh para korban gempa yang bergentayangan. Rumor ini pun menyebar dari mulut ke mulut.

Bekas Hotel Ambacang terletak di lokasi strategis di jantung Kota Padang, tepatnya di simpang tiga, Jalan Bundo Kanduang, Pasar Ambacang dan Jalan Gereja. Jalur itu merupakan jalur sibuk di Kota Padang, karena beberapa angkutan kota melewati jalur tersebut dan kendaraan pribadi. Kawasan itu juga kerap dijadikan tempat nongkrong bagi kawula muda.

Keangkeran lokasi tersebut akan terasa jika melewati pada malam hari. Meski berada di pusat kota, namun kawasan itu sepi dari keramaian. Bahkan, para tukang ojek yang biasa mangkal di persimpangan jalan itu, kini beralih ke Pasar Raya Padang di Keluaraha Parak Rumbio, Kecamatan Padang Selatan.

“Dulu saya mencari penumpang di depan Hotel Ambacang tapi sekarang, tidak berani saya di sana sepi dan angker, sejak terjadi gempa dulu. Di sini kan banyak yang mati,” ujar Iswanto (35) tukang ojek yang mangkal di Bundaran Air Mancur Pasar Raya Padang, saat berbincang dengan okezone belum lama ini.

Pascapembersihan puing bangunan itu sampai sekarang, kata Iswanto, banyak kejadian aneh-aneh. Kawannya sesama tukang ojek, Fendi, pernah mengalami hal-hal yang aneh, dia melihat orang yang berlumuran darah di depan bekas hotel tersebut sambil minta tolong. Kejadian terjadi pada Februari lalu, saat itu daerah gerimis dan remang-remang. “Kini Fendi tidak berani melewati jalan itu meski siang hari. Kini entah di mana dia sekarang, saya coba hubungi dia sudah mengojek di luar Padang,” kata Iswanto. Cerita itu diamini oleh teman seprofesi Iswanto lainnya.

Tak hanya itu, terdapat cerita mistis lainnya yang merebak di kalangan tukang ojek di kawasan itu dan menjadi buah bibir di tengah masyarakat. Iswanto menceritakan, ada perempuan yang menumpang naik ojek kemudian berhenti di depan hotel tersebut. “Kata orang, saat itu tukang ojek bertanya pada perempuan itu, ‘Mau kemana?’ Lalu, perempuan itu menjawab, ‘Uda tangan awak tatingga di siko’ (bang, tangan saya tertinggal di sini). Ngeri berdiri bulu kudukku mendengar cerita itu,” ujar Iswanto.

Tak hanya tukang ojek yang mengalami kejadian aneh, para sopir angkot yang melintas di kawasan itu kerap terkecoh. Dikira ada manusia yang naik di depan bekas Hotel Ambacang. Ternyata setelah naik penumpang tersebut hilang di tengah jalan.

Nita (30), seorang pedagang asongan yang nongkrong di depan bekas Hotel Ambacang tersebut mengiyakan cerita itu. Meski dia berjualan di depan bekas hotel itu, namun kalau sudah sore dia tidak berani lagi berjualan dan lebih memilih pulang.

“Banyak kejadian aneh di sini. Ada yang menjerit minta tolong, ada juga yang mencari bagian tubuhnya. Saya pernah lihat ada tiga mobil yang bergoyang sendiri, setelah diperiksa mobil itu berhenti bergoyang,” katanya.

Saat okezone menelusuri jalan tersebut pada malam hari, kawasan itu sudah tidak ramai lagi dilintasi kendaraan dan hanya dijaga dua sampai tiga orang personel dari Polisi Militer. Hotel Ambacang yang diapit tiga gedung, yaitu Bank BNI, Hotel Pangeran Cita, dan Bumi Minang, kini jika dilewati pada malam hari, bulu kuduk terasa merinding.
(http://news.okezone.com/)

Mengertilah, Aku Menyerah

Posted by Dovi Eka Wiranata |

Mengertilah,

tak sedetik pun waktu berpihak
ketika tembok-tembok harapan
perlahan hancur di reruntuhan hati
Sendiri terhenyak seakan membisu
tenggelam aku di telaga air mata
Di belahan kota ini aku terhempas
menunggumu tak menentu aku tersesat
Sampai kapankah aku berdiam
disebalik janji kau berharap aku kuat
Namun kini, mulai hilang
perlahan menjadi bisikan samar-samar
dalam debu
Mengertilah,
Tak cuma hatiku yang tertikam sembilu
jiwa ku perlahan mati karena racun
yang melemahkan ku
dan duri-duri kau tancapkan sesuka hatimu
Lalu dengan apakah aku bertahan ?
Huh...
kau tak pernah mengerti aku
mendiamkan ku dengan kesalahan yang juga ada pada Mu
begitu lelah hari mengharap
sedangkan hati ku semakin merapuh
ingin jiwa kusandarkan
dan hati kurebahkan
hingga diujung cinta ini aku menyerah

Wednesday, November 10, 2010

Misteri Orang Pendek di Gunung Kerinci

Posted by Dovi Eka Wiranata |

Orang pendek ( Cryptozoology ) adalah nama yang diberikan kepada seekor binatang (manusia?) yang sudah dilihat banyak orang selama ratusan tahun yang kerap muncul di sekitar Taman Nasional Kerinci Seblat, Sumatera. Walaupun tak sedikit orang yang pernah melihatnya, keberadaan orang pendek hingga sekarang masih merupakan teka-teki. Tidak ada seorangpun yang tahu, sebenarnya makhluk jenis apakah yang sering disebut sebagai orang pendek itu. Tidak pernah ada laporan yang mengabarkan bahwa seseorang pernah menangkap atau bahkan menemukan jasad makhluk ini, namun hal itu berbanding terbalik dengan banyaknya laporan dari beberapa orang yang mengatakan pernah melihat makhluk tersebut.

Sekedar informasi, Orang pendek ini masuk kedalam salah satu studi Cryptozoolgy, begitulah yang didapatkan dari beberapa sumber. Ekspediasi pencarian Orang Pendek sudah beberapa kali di lakukan di Kawasan Kerinci, Salah satunya adalah ekspedisi yang didanai oleh National Geographic Society.
National Geographic sangat tertarik mengenai legenda Orang Pendek di Sumatera, beberapa peneliti telah mereka kirimkan kesana untuk melakukan penelitian mengenai makhluk tersebut.
Sejauh ini, para saksi yang mengaku pernah melihat Orang Pendek menggambarkan tubuh fisiknya sebagai makhluk yang berjalan tegap (berjalan dengan dua kaki) tinggi sekitar satu meter (diantara 85 cm hingga 130 cm) dan memiliki banyak bulu diseluruh badan. Bahkan tak sedkit pula yang menggambarkannya dengan membawa berbagai macam peralatan berburu, seperti semacam tombak. Keberadaan Orang Pendek sudah terlalu lama terdengar sejak berabad-abad lalu, sehingga hal itu menjadikannya sebagai salah satu legenda masyarakat disana.
Dari ekspedisi yang beberapa kali di lakukan, umumnya ada suatu studi kasus mengenai klasifikasi pembagian saksi mata. Pertama saksi dari suku anak dalam, yaitu sekelompok orang yang tinggal disekitar areal Taman Nasional. Kemudian ada beberapa kelompok saksi mata dari orang desa lokal, kemudian beberapa kesaksian dari warga pendatang (Belanda) pada awal abad ke-20.
Legenda Mengenai Orang Pendek sudah secara turun temurun dikisahkan di dalam kebudayaan masyarakat Suku anak dalam. Mungkin bisa dibilang, Suku anak dalam sudah terlalu lama berbagi tempat dengan para Orang Pendek di kawasan tersebut.
Walaupun demikian, jalinan sosial diantara mereka tidak pernah ada. Sejak dahulu suku anak dalam bahkan tidak pernah menjalin kontak langsung dengan makhluk-makhluk ini, mereka memang sering terlihat, namun tak pernah sekalipun warga dari suku anak dalam dapat mendekatinya. Ada suatu kisah mengenai keputusasaan para suku anak dalam yang mencoba mencari tahu identitas dari makhluk-makhluk ini, mereka hendak menangkapnya namun selalu gagal. Pencarian lokasi dimana mereka membangun komunitas mereka di kawasan Taman Nasioanal juga pernah dilakukan, namun juga tidak pernah ditemukan.
Awal tahun 1900-an, dimana saat itu Indonesia masih merupakan jajahan Belanda, tak sedikit pula laporan datang dari para WNA. Namun yang paling terkenal adalah Kesaksian Mr. Van Heerwarden di tahun 1923. Mr. Van Heerwarden adalah seorang zoologiest, dan disekitar tahun itu ia sedang melakukan penelitian di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat.
Pada suatu catatan kisahnya, ia menuliskan mengenai pertemuannya dengan beberapa makhluk gelap dengan banyak bulu di badan. Tinggi tubuh mereka ia gambarkan setinggi anak kecil berusia 3-4 tahun, namun dengan bentuk wajah yang lebih tua dan dengan rambut hitam sebahu. Mr. Heerwarden sadar mereka bukan sejenis siamang maupun primata lainnya. Ia tahu makhluk-makhluk itu menyadari keberadaan dirinya saat itu, sehingga mereka berlari menghindar. Satu hal yang membuat Mr. Heerwarden tak habis pikir, semua makhluk itu memiliki persenjataan berbentuk tombak dan mereka berjalan tegak. Semenjak itu, Mr. Heerwarden terus berusaha mencari tahu makhluk tersebut, namun usahanya selalu tidak membuahkan hasil.
Sumber-sumber dari para saksi memang sangat dibutuhkan bagi para peneliti yang didanai oleh National Gographic Society untuk mencari tahu keberadaan Orang Pendek. Dua orang peneliti dari Inggris, Debbie Martyr dan Jeremy Holden sudah lama mengabadikan dirinya untuk terus menerus melakukan ekspedisi terhadap eksistensi Orang Pendek. Namun, sejak pertama kali mereka datang ke Taman Nasional Kerinci di tahun 1990, sejauh ini hasil yang didapat masih jauh dari kata memuaskan. Lain dengan peneliti lainnya, Debbie dan Jeremy datang ke Indonesia dengan dibiayai oleh Organisasi Flora dan Fauna Internasional. Dalam ekspedisi yang dinamakan “Project Orang Pendek” ini, mereka terlibat penelitian panjang disana. Secara sistematik, usaha-usaha yang mereka lakukan dalam ekspedisi ini antara lain adalah pengumpulan informasi dari beberapa saksi mata untuk mengetahui lokasi-lokasi di mana mereka sering dikabarkan muncul. Kemudian ada metode menjebak pada suatu tempat dimana disana terdapat beberapa kamera yang selalu siap untuk menangkap aktivitas mereka. Rasa putus asa dan frustasi selalu menghinggap di diri mereka ketika hasil ekspedisi selama ini belum mendapat hasil yang memuaskan.
Hubungan Kekerabatan Yang Hilang
Beberapa pakar Cryptozoology mengatakan bahwa Orang Pendek mungkin memiliki hubungan yang hilang dengan manusia. Apakah mereka merupakan sisa-sisa dari genus Australopithecus?
Banyak Paleontologiest mengatakan bahwa jika anggota Australopithecus masih ada yang bertahan hidup hingga hari ini, maka mereka lebih suka digambarkan sebagai seekor siamang. Pertanyaan mengenai identitas Orang Pendek yang banyak dikaitkan dengan genus Australopitechus ini sedikit pudar dengan ditemukannya fosil dari beberapa spesies manusia kerdil di Flores beberapa waktu yang lalu. Fosil manusia-manusia kerdil “Hobbit” berjalan tegak inilah yang kemudian disebut sebagai Homo Floresiensis. Ciri-ciri fisik spesies ini sangat mirip dengan penggambaran mengenai Orang Pendek, dimana mereka memiliki tinggi badan tidak lebih dari satu seperempat meter, berjalan tegak dengan dua kaki dan telah dapat mengembangkan perkakas/alat berburu sederhana serta telah mampu menciptakan api. Homo Floresiensis diperkirakan hidup diantara 35000 – 18000 tahun yang lalu.
Apakah Orang Pendek benar-benar merupakan sisa-sisa dari Homo Floresiensis yang masih dapat bertahan hidup? Secara jujur, para peneliti belum dapat menjawabnya.
Peneliti mengetahui bahwa setiap saksi mata yang berhasil mereka temui mengatakan lebih mempercayai Orang Pendek sebagai seekor binatang. Debbie Martyr dan Jeremy Holden, juga mempertahankan pendapat mereka bahwa Orang Pendek adalah seekor siamang luar biasa dan bukan hominid.
Rimbo Bujang ( Bumi Seentak Galah Serengkuh Dayung)

Our Partners

Website Hit Counter
Free Hit Counter A4GUY826KBGS